Minggu, 19 Februari 2012

Halo Bali

Sudah satu minggu saya berada di Denpasar, satu minggu yang menjadi awal minggu-minggu saya selanjutnya di sini. Jujur, tidak pernah sedikitpun saya punya angan-angan untuk bekerja apalagi untuk menetap di Bali. Satu-satunya yang pernah saya pikirkan tentang Bali adalah kapan saya bisa melihat Ubud, itu saja. Namun saya adalah manusia yang hanya bisa merencanakan, tidak punya sedikitpun kuasa untuk menentukan. Dan ternyata Yang Maha Menentukan telah menggariskan bahwa Bali akan menjadi salah satu cerita dalam hidup saya.

Entah takdir seperti apa yang akan saya jalani disini, yang jelas pekerjaan saya disini memberikan saya kesempatan untuk menjelajahi sebagian besar daerah di Bali, tidak hanya Ubud saja. Baru tiga hari disini saya sudah 'harus' menelusuri Denpasar bagian selatan, dimulai dari Seminyak ke selatan hingga komplek fourseason resort di Jimbaran. Nusa dua dan Sanur juga tak ketinggalan. Yang jelas kedepannya saya berharap bisa memposting tempat-tempat menarik di pulau ini, tentunya kalau saya sudah pegang 'senjata' lagi, hehe. Oke, mari mulai menjelajah Bali:)

Grill Spicy Chicken Teriyaki


Ini grill spicy chicken teriyaki-nya Chubo-Chubo. Isinya daging ayam fillet bakar, ebi maki, chicken roll, nasi dan salad. Daging ayam fillet bakarnya empuk dan gurih, sausnya juga lumayan enak. Ebi maki dan chicken roll-nya pun empuk. Salad sayur dihidangkan fresh lengkap dengan mayonaise. Cocok untuk makan siang kalau kita lagi jalan-jalan ke mall. Selamat mencoba!:)

Sabtu, 21 Januari 2012

Tiga Do'a Saya Dan Jawaban-Nya


Allah SWT pasti mendengar do'a kita, hanya saja kapan do'a itu dikabulkan, itu menjadi rahasia-Nya. Namun jangan kuatir, kalau memang sudah waktunya dikabulkan, pasti dikabulkan. Ngomong-ngomong soal do'a yang dikabulkan, alhamdulillah tiga do'a saya minggu ini dikabulkan semua, dapat bonus pula. Hehe, rejeki memang nggak kemana.

Mengawali do'a saya di awal minggu ini adalah semoga Prili jadi pulang ke Surabaya weekend ini. Beberapa waktu lalu soalnya dia sempat bilang kalau liburan imlek ini mau pulang, dan alhamdulillah dia sudah dalam perjalanan menuju Surabaya sekarang. Semoga perjalanannya selalu dilindungi Allah SWT. Sepertinya dia lumayan lama di Surabaya, libur tiga hari ditambah cuti dua hari, harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, haha.

Tahu kalau Prili berencana pulang weekend ini, saya yang biasanya hanya berdo'a semoga bisa segera dapat pekerjaan, kali ini sedikit saya tambahi menjadi semoga saya bisa dapat pekerjaan sebelum Prili pulang ke Surabaya. Kenapa harus sebelum dia pulang? Soalnya kalau ke rumahnya pasti ditanyain sama orang tuanya, "Sudah kerja dimana sekarang?", kalau sudah dapat kerja kan enak jawabnya, beda kalau masih nganggur, hehe. Sebenarnya sih do'a untuk dapat pekerjaan ini sudah intens saya lakukan sejak wisuda bulan September tahun lalu, tapi do'a saya baru dikabulkan minggu ini tepat sebelum Prili pulang ke Surabaya, alhamdulillah bisa sedikit lega kalau bertandang ke rumahnya:D

Selanjutnya, do'a saya yang ketiga adalah semoga artikel saya bisa masuk best 100 lomba menulis artikel wisata dalam program Adira Faces Of Indonesia. Kalau tulisan saya masuk 100 artikel terbaik rencananya hadiahnya mau saya pakai untuk nambahi upgrade kamera saya. Dan alhamdulillah sekali lagi do'a saya dikabulkan. Dari tiga artikel yang saya kirim, satu diantaranya masuk 100 artikel terbaik. Silahkan kalau mau membaca. Untuk do'a saya yang ketiga ini saya diberi bonus, ternyata tidak hanya saya saja yang masuk best 100 tapi Prili dan teman saya Andreas juga masuk. Double alhamdulillah!

Ya sudah kalau begitu saya cukupkan dulu omong gondrong saya kali ini, karena saya harus siap-siap untuk kencan malam ini, hehe. Have a nice long weekend:) 

Jumat, 20 Januari 2012

Menikmati Pagi Di Pantai Klayar


Pacitan memang terkenal dengan sebutan Kota 1001 Gua, namun keindahan pantainya juga tidak kalah mempesona. Salah satu pantai yang paling sering menjadi tujuan wisata di Pacitan adalah Pantai Klayar. Meskipun belum sepopuler pantai-pantai di selatan Pulau Jawa seperti Parangtritis dan Plengkung, tapi Pantai Klayar akan memberikan kesan tersendiri bagi pengunjungnya. Pantai Klayar terletak sekitar 45 km sebelah barat Pacitan. Pantai ini dapat dicapai dengan sepeda motor ataupun mobil.

Akses jalan yang sempit, beberapa tanjakan dan turunan yang curam serta jaraknya yang jauh dari kota merupakan tantangan tersendiri bagi pengunjungnya, khususnya bagi para driver. Namun jangan kuatir, sepanjang perjalanan kita akan selalu dimanjakan dengan pemandangan bukit hijau yang menyejukkan mata. Udara perbukitan yang masih segar saat pagi hari semakin membuat saya menikmati perjalanan ini. Kadang kita juga akan menjumpai beberapa orang penduduk yang kebetulan berpapasan dengan kita. Dengan senyum yang ramah, mereka tanpa segan akan menyapa kita.


Jika datang kesini lebih pagi, kita akan bisa menikmati sunrise-nya yang muncul dari balik bukit. Sunrise di pantai ini terlihat cantik, ditambah lagi arak-arakan awan yang masih menutupi sebagian langit Pacitan, membuat pemandangan ini semakin menarik. Untuk melihat Pantai Klayar secara utuh, kita bisa naik ke bukit karang yang ada di sebelah kanan pantai ini. Pihak pengelola pantai sudah menyediakan jalan setapak untuk memudahkan pengunjung menuju bukit karang ini. Dari atas bukit ini, lagi-lagi saya dibuat takjub dengan hamparan Samudra Hindia yang terpampang di depan saya. Sungguh perpaduan yang apik antara kemegahan dan keindahan. Berjalan menyusuri pantai menuju ke timur, kita akan menjumpai muara sungai yang airnya jernih dan tenang. Dipinggirnya berjajar pohon-pohon kelapa yang merupakan vegetasi pantai yang menjadi kebanggaan warga Pacitan ini. Sungguh pemandangan pagi yang menyejukkan hati.


Sebenarnya ada satu lagi yang menjadi obyek andalan di Pantai Klayar yaitu seruling laut yang berasal dari sebuah celah di batu karang ini. Ketika ombak besar datang, sebagian airnya akan masuk melalui celah tersebut dan menyembur ke atas menciptakan sebuah air mancur raksasa yang luar biasa. Air mancur ini juga disertai dengan suara mirip siulan oleh karena itu air mancur ini disebut seruling laut. Untuk menikmati fenomena alam ini dari dekat tergantung keberuntungan, kalau ombak lagi tinggi, penjaga pantai tidak akan mengijinkan kita untuk mendekatinya, seperti saat saya kesana beberapa waktu lalu. Terlepas dari itu semua, Pantai Klayar memang patut menjadi salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi di Jawa Timur karena menyuguhkan pemandangan alam yang luar biasa.

Berjalan Menembus Kabut Lautan Pasir Gunung Bromo


Lautan Pasir Gunung Bromo yang dikelilingi bukit dan pegunungan ibarat sebuah cawan raksasa kosong tak berisi pada siang hari. Kondisi ini akan sangat berbeda jika sudah menjelang malam hingga pagi hari. Cawan raksasa yang tadinya kosong ini akan terisi penuh dengan kabut. Sudah bisa dibayangkan betapa dinginnya udara di dalam sana. Namun inilah tantangannya, saya dan empat orang saudara saya waktu itu sepakat untuk melintasi lautan pasir Bromo ini dengan berjalan kaki.

Pukul 03.30 kami berangkat dari homestay. Berbekal senter seadanya, kami berlima mulai menyusuri lautan pasir mengikuti pathok-pathok pembatas kawasan Gunung Bromo, karena itulah petunjuk kami supaya tidak kesasar.


Dan ternyata melintasi lautan pasir Bromo ini tidak semudah yang kami bayangkan. Kami harus berhadapan langsung dengan kabut tebal yang saat itu mulai turun memenuhi lautan pasir ini. Selain itu, debu dari lalu lalang hardtop yang seperti arak-arakan pejabat itu juga sangat mengganggu pernafasan. Jadi, bagi pejalan seperti kami, memakai masker hukumnya wajib saat melintasi kawasan ini. Tak hanya itu, kombinasi kabut dan debu tadi ternyata juga sukses membuat jarak pandang semakin terbatas. Dan sekali lagi, memang inilah tantangannya.

Setelah hampir 1,5 jam berjalan, akhirnya kami sampai juga di starting point pendakian ke kawah Gunung Bromo. Disitu sudah ramai orang yang sedang bersiap-siap. Banyak yang menawarkan ojek kuda, tapi kami tetap memegang teguh keinginan kami untuk berjalan kaki hingga bibir kawah Gunung Bromo. Ojek kuda disini rupanya telah terorganisir dengan baik. Jadi setiap pemilik diberi identitas berupa nomor urut, mereka tidak perlu berebut mencari pelanggan. Mereka tinggal menunggu giliran dipanggil sesuai nomor urutnya.


Sesampainya di bibir kawah, pemandangan yang luar biasa indah terhampar di hadapan kami. Sunrise yang menawan di atas kabut yang seperti gumpalan kapas raksasa itu sungguh pemandangan yang menakjubkan. Benar-benar pagi yang sempurna. Puas menikmati pemandangan dari bibir kawah, kamipun melewati lautan pasir lagi untuk kembali ke homestay. Saat perjalanan pulang ini, kabut berangsur-angsur mulai hilang. Dan akhirnya sekitar pukul 8 kabut sudah benar-benar hilang dari lautan pasir Bromo. Deretan bukit-bukit hijau disekitar Gunung Bromo sepenuhnya terlihat. Hardtop-hardtop yang membawa para pelancong juga tampak rapi berwarna-warni. Semoga sampai kapanpun Bromo akan tetap menawan seperti ini.


nb : Sebenarnya saya sudah pernah posting tulisan tentang perjalanan menembus kabut Bromo ini, tapi karena menurut salah seorang teman, postingan saya itu sedikit disgusting jadi saya edit lagi jadi seperti ini. Tapi kalau masih ingin baca yang disgusting tadi bisa dibaca di sini.